Selasa, 23 September 2014

Setiap detik adalah pelajaran

Tahun berganti bulan, bulan berganti minggu, minggu berganti hqri, hari berganti jam, jam berganti menit, dan menit berganti detik.

Tidakkah kalian tahu jika detik di setiap hidup kita adalah pelajaran.

Kita belajar bersabar saat kita tahu bahwa tidak bisa menahan amarah adalah kerugian untuk kita.

Kita belajar berpikir saat kita tahu bahwa tidak bisa menyelesaikan persoalan tanpa berpikir.

Kita belajar ikhlas saat kita mengerti bahwa dengan ikhlas segalanya terasa mudah.

Kita belajar diam saat diam itu terlihat seperti emas.

Kita belajar tersenyum saat kita mengingat pedihnya hati saat kita menangis.

Kita belajar menangis saat hal menyakitkan tak bisa kita tahan lagi.

Kita belajar bersyukur saat kita menginginkan nikmat yang lebih besar.

Dan masih banyak lagi hal yang kita pelajari dari detik hidup kita.

Kita belajar dari sebuah kesalahan

Kita belajar dari penderitaan

Kita belajar dari kekecewaan

Minggu, 21 September 2014

Izinkanku

Hari ini terlalu lelah untukku menulis, melukiskan sajak demi sajak dalam sehari. Itupun jika waktu masih mendukung, keadaan mengizinkanku.
Aku terlalu lama tidur, hingga aku tak bisa membedakan saat yang nyata dan saat yang hanya sebuah mimpi.

Namun aku masih berharap untuk mimpi yang tak aku cita2kan, tak mengapa selama orang yang memberiku hidup bahagia.

Terlalu sering menderita, terlalu lama tersiksa. Izinkan aku memberinya sedikit kebahagian hingga aku bisa sedikit merasa bahagia

Laut itu telah menyapu semua isi pantai dengan ombaknya
Keindahanku, impianku, keinginanku untuk membuat istana pasir yang aku impikan.

Setelah itu aku akan memulai mimpi baru
Merangkai mimpi yang telah aku inginkan bersama dia yang selalu menemaniku saat ku tenang dan saat ku takut.

Aku menyayanginya dan dia juga menyayangiku
Izinkanku terus menyayangi dan disayangi dia.

Pikiran ini terlalu lelah untuk memikirkan beban kehidupan
Hati ini terlalu lelah untuk merasakan kesedihan
Jiwa ini terlalu lelah untuk bertahan dalam ketidakpastian
Raga ini terlalu lelah untuk berjalan diatas keraguan

Tuhan...
Izinkan aku tidur
Izinkan aku bermimpi
Dan izinkan aku bangun bersama mimpiku yang menjadi kenyataan

Jumat, 19 September 2014

Tuhan, aku tak kuasa.

Tuhan...
Seandainya waktu dapat berhenti, aku memilih waktu tidur.
Seandainya waktu dapat diulang, aku memilih waktu tidur.
Dan seandainya waktu dapat dipercepat, aku tetap memilih waktu tidur.

Entah bagaimana aku menjelaskannya, aku tak punya jawaban atas pertanyaanya.

Warna hidup seseorang berbeda dengan warna hidup orang lain. Aku memahami warna yang telah menghias hidupnya, jadi aku tau tanggapan apa yang akan terjadi jika aku hendak mengubah warna itu.
Aku juga menginginkan apa yang kau inginkan, tapi keadaanlah yang memaksaku tak mmpu menjawab pertanyaanmu.

Hal ini membuatku jadi orang termiskin diantara orang yang paling miskin.

Tuhan...
Seandainya keadaan dapat berhenti, aku memilih kembali
Seandainya keadaan dapat diulang, aku memilih kembali
Dan seandainya keadaan dapat dipercepat, aku tetap memilih kembali.

Sesuatu yang telah dan masih aku perjuangkan akan terasa sia sia jika kita diabaikan.

Sejujurnya, aku bukan orang pemilih. Dan jangan anggap aku orang yang pemilih. Aku hanya tak sempurna, bukan salahku jika aku lemah terhadap suatu hal. Respon tubuhku berkata lain saat aku merasakan hal itu, aku suka dan aku lakukan meski respon tubuhku menolak dengan menciptakan rasa sakit dalam tubuhku. Apa itu salahku?

Tuhan...
Seandainya takdir bisa berhenti, aku memilih diam
Seandainya takdir bisa diulang, aku memilih diam
Dan seandainya takdir bisa dipercepat, aku memilih diam.

Aku tak kuasa seandainya matahari berhenti menyinari
Aku tak kuasa seandainya angin berhenti bertiup
Aku tak kuasa seandainya air berhenti mengalir
Aku tak kuasa seandainya tanah berhenti terdiam

Dalam tidurku aku kembali terdiam

Kamis, 18 September 2014

Jika rindu, katakan rindu

Aku melewati hari kemarin, karena aku begitu lelah...
Semangat pagi dari mentari terbaik di dunia menyapa, menemaniku beberapa jam kebahagiaan. Meski mentariku sedang sedikit meredup, masih kurasakan kehangatannnya.
Saat aku hendak menyapa embun pagi, sesegera panggilan itu terdengar lagi. Aku mengurungkan niatku untuk bangkit
"Ini sebuah kesalahan, kesalahan saat aku menekan sesuatu yang masih aku rindukan"

"Apakah yakin itu sebuah kesalahan atau yang kau bilang ketidaksengajaan atas kesalahan itu?"

"Ya, tentu aku yakin!"

"Yakin?"

Keheningan menjawab pertanyaan itu

"Jika kamu yakin, kamu tidak akan mengembangkan senyum kebohongan"

Terdengar diseberang tawa kecil tertahankan

Lanjutku "aku... Aku yang telah cukup lama mengenalmu bisa sangat membedakan ucapan dinodai dengan senyuman, dan ucapan tanpa dinodai dengan senyuman"

"Memang itu sebuah ketidaksengajaan"

"Baiklah kalau itu sebuah ketidaksengajaan, apa aku bisa mengabaikan ketidaksengajaan itu?"

"Bisa, jika kau bawa aku bersamamu"

Aku melebarkan senyumku selebar lebarnya... Ada sedikit rasa melayang yang buatku tiba tiba terjatuh karena ucapannya.

"Jika rindu katakan rindu"

Senin, 15 September 2014

Sedikit waktu

"Waktu berjalan, dan aku berlari menggapaimu
Lelah menghampiri, dan aku berjuang meraihmu
Dan jika waktu telah terhenti, aku tetap kearah matamu
Dan jika lelah terlampau lelah, aku tetap bertahan kedalam hatimu"

Hari kemarin tanpa terasa telah aku lalui, aku yang biasanya membenci hari senin aku mencoba untuk tidak membencinya. Dan alhasil, hariku setengah menyenangkan.
"Kenapa setengah?"

"Itu karena aku belum mendengar suaranya"

"Apa hubungannya dengan hal itu?"

"Tentu saja ada, karena dia pelengkap hidupku"

Bahagiaku yang hanya setengah, akan jadi penuh karena adanya dirimu di hidupku

Aku menulis untuk hari kemarin, dikarenakan waktu yang sangat sedikit bagiku untuk sedikit menghirup kebebasan.

Hari telah berganti, aku masih belum juga mendengar suaranya, aku begitu merindukannya...

Lelahku memaksaku untuk memejamkan mataku, namun otakku masih sibuk dengan khayalku...

Meski secuil lelah terasa, tidurlah obat yang paling mujarab... Yaaa sebaiknya aku tidur sekarang...

Minggu, 14 September 2014

Ku bahagia

Aku menjadi buta saat aku melihat wajahnya
Aku menjadi tuli saat aku mendengar suaranya
Aku menjadi bisu saat dia berkata
"Aku sayang kamu"

Kehidupan yang mengajari kita tentang hidup, tergantung bagaimana tubuh kita merespon, sikap kita bertindak, dan tergantung jalan yang sudah ditakdirkan.

Pelajaran hidup bisa kita raih melalui permasalahan, namun kita harus tetap berbaik sangka akan apa yang sidah ditakdirkan untuk kita.

4 atau 5 jam, bagiku itu tak cukup untuk aku menikmati kebahagiaan bersamamu.
Ku bahagia saat kau butuh aku
Ku bahagia saat kau inginkanku
Ku bahagia saay kai marah padaku
Ku bahagia saat kau perhatian terhadapku
Ku bahagia tentang segala hal tentangmu

Sabtu, 13 September 2014

Aku lelah

“Jika tidak ada bahu untuk bersandar,
selalu ada lantai untuk bersujud”

Aku menangis...
Sejak bulan purnma tak sempurna semalam aku sedikit merasa kecewa...
Aku ada
Setidaknya saat kau ingin aku ada
Aku tetap ada
Walaupun kau enggan anggap ku ada
Tak mengapa, karena aku ikhlas

Saat malam hampir tergantikan senja, aku yang seperti biasanya mencari se sen uang recehan untuk aku tukarkan dengan hidup aku. Sedikit kecewa dengan hasil kerjaku sendiri karena tak mampu menyelesaikannya dengan sempurna.

Kemudian aku mencoba hal baru yang telah ada lama... Setelah pindah tempat, di tempat itu aku tak bisa berdiri, apa lagi duduk, dan bagaimana aku bisa tidur?

Aku mencoba menanyakannya
Walau kebenarannya aku ingin mendengar suaranya...
"Perjalananku terhalang oleh batu besar, dan aku tak mampu untuk maju ke depan?" Tanyaku

"Waktu yang kau butuhkan kemungkinan tidak cocok dengan yang d harapkan" jawabnya pelan

"Aku mengulang lagi, dan memutar waktu yang cocok untukku beranjak" itu hal yang aku lakukan saat mendengar nasehatnya

Selang waktu terus berganti, aku sedikit keberatan jika aku harus menghapus memoriku tentang beberapa hal yang masih sering aku jumpai, segera aku menyimpan sepenggal demi sepenggal memori itu ke dalam lembar kertas putih.

Dan terdengar hal yang menyakitkan saat dia berkata
"Dan jika itu pun masih belum berhasil, aku menyerah, terserah apa yang akan kau lakukan!"

Aku termenung, mengulang lagi rekaman kata itu dipikiranku.
Dan aku memutuskan untuk berhenti, kembali dia brrkata
"Marah ya sayang...?"

Aku diam, dan diamnya aku ingin dia tau kalau aku marah. Aku  mencoba tahap demi tahap apa yang dia anjurkan, dan usahaku serta usahanya membuahkan hasil. Aku bisa menjelajah bebas ke tempat tanpa aku terkena blacklist.
Dan aku menjawab

"Sesungguhnya beberapa detik yang lalu aku marah terhadapmu, namun sekarang sudah tidak lagi. Tau karena apa? Karena hal yang aku takutkan tak terhadi, aku bebas menjelajah"

............,,.............
Beban datang silih berganti, sedang bebanku sendiri sudah terlalu berat aku topang.

Diperjalanan sebuah kesalahan sungguh aku merasa sangat sedih...
Butir demi butir aku teteskan air mataku tertutup kaca hitam, inginku menangis sejadi jadinya namun aku takut apa yang aku minta terkabulkan.
"Aku lelah..."
"Aku merasa sudah cukup"
"Aku lelah"
"Aku tak mau disini"
"Aku lelah"
"Aku tak mau begini"

Setelah tujuanku tertempati, betapa bodohnya aku salah alamat. Aku memindahkan tubuhku ke tempat yang sudah seharusnya aku disana. Aku sedikit menikmati suasana di sana.

...vf......
Siang semakin dingin, aku hanya bisa menerima takdir atau mungkin ini nasib.

Tuhan...
Aku menyerah dan hanya bisa pasrah dan aku ingin tidur...