Tuhan...
Seandainya waktu dapat berhenti, aku memilih waktu tidur.
Seandainya waktu dapat diulang, aku memilih waktu tidur.
Dan seandainya waktu dapat dipercepat, aku tetap memilih waktu tidur.
Entah bagaimana aku menjelaskannya, aku tak punya jawaban atas pertanyaanya.
Warna hidup seseorang berbeda dengan warna hidup orang lain. Aku memahami warna yang telah menghias hidupnya, jadi aku tau tanggapan apa yang akan terjadi jika aku hendak mengubah warna itu.
Aku juga menginginkan apa yang kau inginkan, tapi keadaanlah yang memaksaku tak mmpu menjawab pertanyaanmu.
Hal ini membuatku jadi orang termiskin diantara orang yang paling miskin.
Tuhan...
Seandainya keadaan dapat berhenti, aku memilih kembali
Seandainya keadaan dapat diulang, aku memilih kembali
Dan seandainya keadaan dapat dipercepat, aku tetap memilih kembali.
Sesuatu yang telah dan masih aku perjuangkan akan terasa sia sia jika kita diabaikan.
Sejujurnya, aku bukan orang pemilih. Dan jangan anggap aku orang yang pemilih. Aku hanya tak sempurna, bukan salahku jika aku lemah terhadap suatu hal. Respon tubuhku berkata lain saat aku merasakan hal itu, aku suka dan aku lakukan meski respon tubuhku menolak dengan menciptakan rasa sakit dalam tubuhku. Apa itu salahku?
Tuhan...
Seandainya takdir bisa berhenti, aku memilih diam
Seandainya takdir bisa diulang, aku memilih diam
Dan seandainya takdir bisa dipercepat, aku memilih diam.
Aku tak kuasa seandainya matahari berhenti menyinari
Aku tak kuasa seandainya angin berhenti bertiup
Aku tak kuasa seandainya air berhenti mengalir
Aku tak kuasa seandainya tanah berhenti terdiam
Dalam tidurku aku kembali terdiam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar