“Jika tidak ada bahu untuk bersandar,
selalu ada lantai untuk bersujud”
Aku menangis...
Sejak bulan purnma tak sempurna semalam aku sedikit merasa kecewa...
Aku ada
Setidaknya saat kau ingin aku ada
Aku tetap ada
Walaupun kau enggan anggap ku ada
Tak mengapa, karena aku ikhlas
Saat malam hampir tergantikan senja, aku yang seperti biasanya mencari se sen uang recehan untuk aku tukarkan dengan hidup aku. Sedikit kecewa dengan hasil kerjaku sendiri karena tak mampu menyelesaikannya dengan sempurna.
Kemudian aku mencoba hal baru yang telah ada lama... Setelah pindah tempat, di tempat itu aku tak bisa berdiri, apa lagi duduk, dan bagaimana aku bisa tidur?
Aku mencoba menanyakannya
Walau kebenarannya aku ingin mendengar suaranya...
"Perjalananku terhalang oleh batu besar, dan aku tak mampu untuk maju ke depan?" Tanyaku
"Waktu yang kau butuhkan kemungkinan tidak cocok dengan yang d harapkan" jawabnya pelan
"Aku mengulang lagi, dan memutar waktu yang cocok untukku beranjak" itu hal yang aku lakukan saat mendengar nasehatnya
Selang waktu terus berganti, aku sedikit keberatan jika aku harus menghapus memoriku tentang beberapa hal yang masih sering aku jumpai, segera aku menyimpan sepenggal demi sepenggal memori itu ke dalam lembar kertas putih.
Dan terdengar hal yang menyakitkan saat dia berkata
"Dan jika itu pun masih belum berhasil, aku menyerah, terserah apa yang akan kau lakukan!"
Aku termenung, mengulang lagi rekaman kata itu dipikiranku.
Dan aku memutuskan untuk berhenti, kembali dia brrkata
"Marah ya sayang...?"
Aku diam, dan diamnya aku ingin dia tau kalau aku marah. Aku mencoba tahap demi tahap apa yang dia anjurkan, dan usahaku serta usahanya membuahkan hasil. Aku bisa menjelajah bebas ke tempat tanpa aku terkena blacklist.
Dan aku menjawab
"Sesungguhnya beberapa detik yang lalu aku marah terhadapmu, namun sekarang sudah tidak lagi. Tau karena apa? Karena hal yang aku takutkan tak terhadi, aku bebas menjelajah"
............,,.............
Beban datang silih berganti, sedang bebanku sendiri sudah terlalu berat aku topang.
Diperjalanan sebuah kesalahan sungguh aku merasa sangat sedih...
Butir demi butir aku teteskan air mataku tertutup kaca hitam, inginku menangis sejadi jadinya namun aku takut apa yang aku minta terkabulkan.
"Aku lelah..."
"Aku merasa sudah cukup"
"Aku lelah"
"Aku tak mau disini"
"Aku lelah"
"Aku tak mau begini"
Setelah tujuanku tertempati, betapa bodohnya aku salah alamat. Aku memindahkan tubuhku ke tempat yang sudah seharusnya aku disana. Aku sedikit menikmati suasana di sana.
...vf......
Siang semakin dingin, aku hanya bisa menerima takdir atau mungkin ini nasib.
Tuhan...
Aku menyerah dan hanya bisa pasrah dan aku ingin tidur...